Alasan Milenial Terlihat Malas saat Bekerja

Generasi milenial selalu dijuluki generasi yang malas dan manja. Biasanya, stereotip semacam ini diberikan oleh generasi Boomers dan generasi X.

Tapi, kita enggak bisa memukul rata semua generasi milenial itu pemalas. Sama seperti di tiap generasinya, pasti ada yang malas dan ada yang enggak.

Begini delapan alasan mengapa generasi milenial lebih terlihat malas saat bekerja, meskipun kenyataannya mungkin enggak seperti itu. Yuk disimak!


1. Tidak lagi menganggap penting aturan tradisional

Milenial cenderung ngerasa bahwa mengikuti aturan-aturan tradisional sudah enggak ada maknanya. Misalnya mengenai peraturan ketat soal pakaian atau peraturan waktu kedatangan yang terlalu kaku.

Biasanya, generasi milenial enggak mau cara yang terlalu berbelit-belit. Mereka selalu menemukan cara untuk membuat segalanya lebih praktis.

Dibanding malas, generasi milenial bisa dibilang lebih kreatif dalam menyelesaikan pekerjaannya secara cepat dan praktis. Jadi mereka merasa enggak perlu terikat dengan aturan-aturan tradisional.

2. Hidup bukan segalanya tentang pekerjaan

Kerja memang penting, tapi bagi generasi milenial, hidup juga penting. Mereka kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja.

Hal ini yang menyebabkan profesi freelancer menjamur dalam beberapa tahun belakangan ini. Kebanyakan generasi milenial lebih nyaman menjalankan profesi sesuai dengan minat dan passion-nya daripada harus kerja di kantoran.

3. Enggak sesuai dengan tujuan hidupnya

Milenial sering kali dijuluki ‘kutu loncat’ karena kebiasaan berpindah-pindah kerjaan dalam waktu singkat. Alasan paling umum alasan mereka pindah-pindah adalah karena pekerjaannya enggak sesuai dengan tujuan hidupnya.

Menurut survei yang dilakukan Deloitte, enam dari sepuluh responden mengatakan bahwa mereka memilih perusahaan yang sejalan dengan pandangan mereka. Kalau enggak sesuai, mereka akan resign.

Di sisi lain, perusahaan enggak akan mau nerima karyawan yang enggak punya komitmen. Bertahan hanya dalam jangka waktu satu sampai enam bulan akan meninggalkan kesan bahwa kamu orang yang gak punya komitmen.

4. Mengharapkan pekerjaan yang memiliki efek positif

Generasi milenial dapat dengan mudah mencari tahu segala informasi detail yang bersangkutan dengan perusahaan yang dituju. Mereka bisa mencari tahu sisi positif, negatif, sejarah, dan siapa saja rekannya sebelum melamar pekerjaan.

Mereka bukan cuman pengen tahu soal gaji, jam kerja, dan bonus. Mereka juga ingin tahu bagaimana kondisi kerjanya, kulturnya, managemennya, bahkan sampai dimana tempat kedai kopi terdekat.

5. Terbiasa untuk fleksibel

Milenial sudah terbiasa mengecek email, mengangkat telepon, dan menyelesaikan masalah setiap saat, di mana saja. Mereka enggak lagi ngerasa perlu untuk duduk di meja pada waktu kerja hanya untuk melakukan kegiatan tersebut.

Mereka berpikir, kenapa mereka harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor, sedangkan mereka bisa mengerjakannya di rumah dan kafe terdekat? Mereka enggak mengerti mengapa karyawan dibayar hanya karena mereka setor muka di kantor saat enggak dibutuhkan secara fisik di kantor.

6. Terbiasa mandiri

Kebanyakan dari generasi milenial belajar otodidak alias nge-google untuk menyelesaikan segala hal. Milenial tahu cara mencari informasi dengan baik dan benar, mereka memanfaatkan kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan baru setiap harinya.

Mereka enggak lagi seantusias generasi sebelumnya mengikuti seminar dan pelatihan mengenai pengembangan diri. Karena, well, menurut mereka di internet juga banyak pelatihan semacam itu.

7. Mereka ingin kejujuran dan transparasi

Generasi milenial enggak bisa disuruh terus langsung nurut. Mereka selalu ingin tahu alasan di balik setiap keputusan yang dibuat untuknya. Mereka enggak peduli dengan jabatan atau usia. Mereka menganggap transparasi semacam ini adalah hak mereka.

Mungkin saja mereka enggak akan selalu setuju dengan keputusan yang dibuat, tapi seenggaknya mereka menghargai kejujuran yang sudah diberikan.

8. Belajar dari pengalaman

Kebanyakan dari generasi milenial mempunyai ambisi tinggi. Mereka enggak akan puas kerja duduk di kantor selama 8 jam sehari. Mereka akan mencari pengalaman dengan terjun langsung ke lapangan.

Generasi milenial merasa bahwa belajar itu belum berakhir setelah lulus secara akademik sekalipun. Jadi, saat kamu kerja pun mereka akan terus belajar.

Write a comment

Your email address will not be published. All fields are required

Your email address will not be published.