malline

Hal Yang Perlu Kamu Alami Sebelum Memutuskan Berhenti Bekerja Leave a comment

Saya memutuskan berhenti kerja di penghujung Februari 2014. Setelah lebih dari 8,7 tahun bekerja di perusahaan konsultan komunikasi (kurang lebih setara dengan 26 tahun bekerja di korporasi), akhirnya saya memutuskan untuk pensiun.

Pada bulan Mei tahun sebelumnya, saya menginjak usia tiga puluh tahun. Beberapa orang mengatakan, tiga puluh tahun adalah usia yang tepat untuk menikah, memiliki karier yang mapan, dan mempunyai tabungan masa depan. Kadang-kadang, saya juga punya pikiran seperti itu. Tapi, saya lebih sering tidak berpikir demikian.

Meninggalkan zona nyaman

Saya telah menghabiskan usia 20-an saya dengan bekerja, mulai dari meniti karier dengan posisi Junior PR Associate hingga Senior Communications Consultant, dari Digital Division Head sampai menjadi Creative Director. Dan saya sangat menikmati setiap hari yang saya lewatkan bersama para bos yang saya hormati, rekan kerja yang saya kagumi, dan para klien.

Saya pun belajar tentang segala hal yang ingin saya ketahui, serta mengerjakan beragam kampanye yang membuat saya bangga. Namun, setelah 8,7 tahun lamanya (sekali lagi, masa jabatan ini setara dengan bekerja 26 tahun di korporasi), saya merasa seperti berada di zona nyaman.

Sebenarnya kondisi ini menyenangkan kok—saya tidak punya alasan untuk mengeluh. Tapi ternyata berada di zona nyaman membuat saya gelisah.

Saya tahu bahwa saya harus keluar dari kondisi ini, melangkah ke tempat baru dan menantang diri saya. Dengan cara inilah saya bisa mendapat perspektif baru, memetik pengalaman-pengalaman baru, dan mempelajari beragam pelajaran baru. Saya tahu, saya selalu ingin membuat hal-hal indah dan memberi makna bagi dunia—baik dalam bentuk prosa, artikel, fotografi, film, pidato, workshop, atau melalui puisi dua belas baris.

Dengan mendedikasikan usia 30-an saya melakukan hal-hal ini, saya telah keluar dari zona nyaman. Saya menjalani hidup yang selalu saya impikan sejak masih kecil.

Pilihlah hidup yang ingin kamu jalani

Tapi saya tidak bisa berhenti kerja dari kantor saya.

Begitu kata seorang teman saat tahu bahwa saya pensiun dini.

Jangan salah sangka. Saya tidak meminta kamu untuk berhenti kerja. Kamu juga tidak perlu merasa harus mengundurkan diri dari kantor.

Lakukan saja yang terbaik untuk diri kamu sendiri sesuai dengan waktunya. Karena kita semua punya perjalanan masing-masing. Kita punya cara masing-masing untuk menjalani hidup. Dan tak salah jika kamu menjalani hidup yang kamu inginkan.

Setiap hal dalam hidup punya cara yang berbeda untuk membuat kita puas. Jadi, semua terserah kamu untuk memilih cara hidup yang paling memuaskanmu dan membuatmu utuh.

Tapi jika kamu sedang bimbang memutuskan apakah harus berhenti kerja dan memulai hal baru (atau tidak), saya punya satu rahasia kecil untuk kamu. Inilah yang membantu saya membuat keputusan dan menunjukkan jalan yang lebih jelas untuk mencapai hidup yang saya impikan.

Oh, saya bahkan punya enam rahasia kecil untuk kamu. Saya rasa, kamu perlu mengalami hal-hal ini terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berhenti kerja.

Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang kamu kagumi dan hargai

Kamu mungkin mengagumi mereka karena kecerdasannya, sosoknya yang bijaksana, pribadinya yang menyenangkan dan inspiratif, hubungan kalian yang hangat, atau intuisi bisnisnya yang tajam. Kamu perlu terus terhubung dengan orang-orang seperti ini.

Mengobrollah dengan mereka, meski hanya dua puluh menit sembari meneguk secangkir kopi. Bertanyalah tentang berbagai pertanyaan dan dengarkan setiap ucapan mereka. Periksa dengan jeli bagaimana mereka menjalani hidupnya.

Bacalah buku yang mereka baca dan tonton setiap diskusi mereka di YouTube. Singkatnya, luangkan lebih banyak waktumu dengan orang-orang seperti ini, dan kamu akan melihat seberapa cepat kamu bertumbuh.

Bekerjalah untuk dirimu sendiri

Ya, selalu bekerjalah untuk dirimu sendiri. Bahkan apabila kamu masih bekerja di perusahaan orang lain dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Ingatlah bahwa kamu tidak bekerja untuk bos kamu. Kamu bekerja untuk dirimu sendiri. Jadi, belajarlah sebanyak mungkin.

Gunakan setiap fasilitas pembelajaran di kantor atau training. Mintalah masukan dan nasihat dari bos, senior-senior kamu, atau rekan sekerja. Berikan yang terbaik yang kamu bisa. Saat kamu menyerahkan hasil pekerjaanmu, pastikan bahwa itu adalah hasil yang terbaik yang bisa kamu berikan.

Temukan dorongan terbesar untuk kamu bekerja dan mengapa hal itu mampu menggerakkanmu. Bagi saya, dorongan tersebut adalah 3Cs: cash, career, dan cause.

Saya akui, ada kalanya seseorang sangat membutuhkan uang (cash) ketimbang dua hal lainnya, misalnya, ketika salah satu anggota keluargamu sedang jatuh sakit. Terkadang, dorongan terbesarmu adalah mencapai karier (career) yang mapan. Kamu ingin memiliki jabatan di sebuah perusahaan, pindah ke kantor cabang di London, atau memimpin sebuah divisi seperti yang selalu kamu impikan.

Di lain waktu, doronganmu adalah menciptakan sebuah gerakan perubahan (cause). Kamu termotivasi untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, misalnya penyelamatan lumba-lumba atau mengajar anak-anak di pedalaman. Coba renungkan doronganmu dan tanya kepada dirimu sendiri: kenapa saya melakukan begitu mengejar hal ini?

Dengan mengetahui mengapa kamu mengejar sesuatu dan mengapa kamu didorong oleh hal-hal tertentu, kamu bisa lebih jelas dalam membuat keputusan profesional (atau bahkan memutuskan hal-hal personal).

Pada akhirnya, di mana pun kamu berada dan apa pun yang kamu lakukan, berusahalah untuk terus meningkatkan dan mengembangkan dirimu. Ini adalah hal-hal yang tidak bisa direnggut orang lain dari dirimu.

Terlibat di aktivitas atau proyek yang kamu sukai dan banggakan

Bagi saya, melakukan sesuatu yang saya sukai (yang tidak berhubungan dengan urusan pekerjaan) adalah hal yang menyehatkan mental saya. Zaman sekarang rasanya lebih mudah untuk terlibat di proyek yang menyenangkan seperti itu. Kamu cukup buka laman Google dan mencari grup atau komunitas di sekitar yang sesuai dengan minat kamu.

Kalau kamu tidak suka aktivitas komunal dan lebih suka menyendiri seperti menulis puisi, kamu bisa membuat proyek menulis puisi dan menerbitkannya secara independen lewat penerbit atau blog. Saya percaya, hal ini bisa membuat kamu lebih stabil di tengah dunia kerja yang begitu cepat dan banyaknya tekanan pekerjaan. Ini juga membuatmu seperti memiliki prestasi pribadi—prestasi yang sepenuhnya milikmu.

Luangkanlah waktu dua hingga tiga jam dalam sepekan untuk melakukan hal ini. Kamu tidak akan menduga ke mana hal ini akan membawamu.

Temukan kembali kebahagiaanmu dan tentukan kesuksesan versimu

Apa hal-hal yang kamu lakukan dengan nyaman, tak peduli seberapa pun bodoh atau tidak berguna? Orang lain mungkin akan meremehkanmu karena kamu jarang bepergian. Tapi, bagaimana jika kamu sangat nyaman berada di rumah, memanggang kukis, membuat selai, dan membuat kruistik?

Temukan kebahagiaan versimu sendiri dan percaya dirilah saat melakukannya. Lalu, bertanyalah pada dirimu sendiri: sudah berapa banyak saya melakukan hal ini sehari-hari?

Langkah berikutnya adalah menentukan kesuksesan versi kamu. Yang saya maksud di sini adalah sesuatu yang membuat hidupmu menjadi ringan, bahagia, dan utuh.

Biasanya, kita cenderung mengukur kesuksesan dengan standar sosial: mobil, rumah, tabungan, pasangan, anak-anak, dan sebagainya. Kadang, kita pun membandingkan kesuksesan kita dengan saudara, rekan kerja, atau teman-teman semasa sekolah dulu.

Tapi, jika kamu bisa mendefinisikan sukses, kira-kira apa ukuran kesuksesan versi kamu? Apa arti kesuksesan bagimu bila orang-orang yang kamu kasihi tidak menghakimimu? Apa arti kesuksesan bagimu bila kamu tidak merasa takut?

Melangkah lebih jauh dari zona nyaman, lakukan hal-hal kecil yang kamu impikan
Kata orang, keajaiban terjadi saat kita melangkah keluar dari zona nyaman. Adakah hal-hal yang ingin kamu lakukan sejak dulu, tapi tak pernah kamu lakukan karena rasanya hal itu terlalu menakutkan, berisiko, memalukan, dan membuatmu tak nyaman?

Seorang teman berkata bahwa ia ingin sekali makan malam di sebuah restoran seorang diri. Tapi, ia belum pernah melakukannya. Rasanya menakutkan, katanya.

Apa kata orang nanti? Pasti akan terasa canggung makan seorang diri di restoran yang bagus dan membaca menu sendirian, kan? Orang-orang mungkin akan mengasihani dia, lalu berpikir kalau dia tidak punya teman untuk diajak makan bersama, kan?

“Kalau misalnya kamu benar-benar melakukannya, perubahan apa yang mungkin terjadi di diri kamu?” saya bertanya.

“Mungkin saya bisa menjadi lebih nyaman dengan diri saya sendiri. Lebih percaya diri dengan apa adanya diri saya, dan tak perlu pusing dengan pendapat dan penilaian orang lain. Saya rasa, saya akan merasa…. lebih ringan.”

Rencanakan dan nikmatilah hidupmu setiap hari

Coba pikirkan sejenak tentang hidup yang kamu inginkan. Hidup ideal seperti apa yang kamu dambakan? Misalnya di aspek kesehatan, karier, finansial, personal, hubungan, spiritual, dan sebagainya.

  • Buatlah daftar tentang segala hal yang ingin kamu alami di “hidup ideal” versi kamu.
  • Buatlah daftar tentang hal-hal yang kamu perlu pelajari agar bisa mengalami hal-hal tersebut.
  • Buat daftar tentang hal-hal yang bisa kamu kontribusikan ke orang-orang yang kamu kasihi, komunitas, dan masyarakat ketika kamu menjalani hidup yang ideal itu.

Nah, sekarang coba lihat daftar yang kamu buat. Lihatlah bagaimana kamu bisa melangkah pelan-pelan untuk mewujudkannya dan menjalani hidupmu yang sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *