Cara Kerja Otak

otak

Kamu mungkin tahu adegan klasik ini: ada suara menderu di angkasa dan sebuah objek kecil terbang melintas. Orang-orang melihat ke atas dan terdengar beberapa teriakan berbeda, “Lihat di langit! Itu burung!” “Itu pesawat terbang!” “Itu Superman!”

Objeknya sama, langitnya sama. Bahkan suara yang mereka dengar juga sama. Lalu kenapa tiga orang yang menyaksikan suatu kejadian yang sama memiliki kesimpulan yang berbeda-beda?

Jawabannya ada dalam bagaimana mekanisme otak kita dalam berpikir. Kita mengalami dan memahami dunia di sekitar kita berdasarkan pengetahuan yang kita sudah miliki, bahkan walau pengetahuan itu kadang salah.


Teka-teki berpikir

Dunia ini membingungkan dan ramai. Otak kita harus berusaha membuat dunia dapat kita pahami dengan memproses arus informasi yang tak kunjung berhenti.

Idealnya – agar bisa menjadi akurat – otak kita dapat menganalisis segala sesuatu secara menyeluruh. Tapi ini tidak dapat dilakukan karena sangat tidak praktis.

Berpikir butuh waktu, padahal kita butuh cepat membuat kesimpulan. Misalnya, kita harus cepat memutuskan kapan menyeberang jalan dengan cepat – bahkan lari – saat mendengar suara mobil cepat mendekati kita.

Berpikir juga membutuhkan energi – atau daya otak, padahal otak kita memiliki daya terbatas. Menganalisis segala sesuatu akan membuat energi kita cepat habis.

Batasan-batasan ini menjadi masalah dalam berpikir: otak kita tidak punya cukup sumber daya untuk memahami dunia tanpa melewati beberapa jalan pintas.

Otak kita pintar dan malas

Otak kita mencari jalan pintas untuk mengatasi masalah berpikir dengan bergantung pada pikiran-pikiran yang sudah ada di benak kita, ini dinamai skema. Skema-skema inilah yang melakukan proses untuk otak, bisa dibayangkan sebagai sesuatu yang otomatis.

Menggunakan skema akan lebih efisien ketimbang harus menganalisis setiap aspek dalam setiap detik. Skema memungkinkan otak kita memproses informasi dengan lebih sedikit energi, sehingga menghemat daya otak untuk pemikiran dan pemecahan masalah lain yang lebih penting.

Otak kita seperti perpustakaan
Skema adalah balok-balok yang membentuk pengetahuan kita tentang dunia. Otak kita bergantung pada bermacam jenis skema untuk memahami berbagai situasi berbeda.

Skema mirip seperti buku-buku di benak kita yang memberitahu kita tentang berbagai jenis objek dan perilaku mereka. Skema soal burung, misalnya, mungkin memberitahu kita bahwa burung itu “hewan kecil”, “punya sayap”, dan “bisa terbang”. Semua pengetahuan tentang semua objek yang kita tahu akan menjadi buku-buku yang mengisi perpustakaan dalam benak kita.

Otak kita mempercayai isi buku-buku atau skema ini saat kita berusaha memahami sesuatu di lingkungan kita. Mengandalkan skema akan lebih cepat dan lebih mudah ketimbang harus menganalisis semua aspek dari awal lagi, dan kesimpulan yang diperoleh biasanya – tapi tidak selalu – sama saja.

Apakah saya melihat sesuatu secara berbeda dibanding kamu?

Keakuratan pemahaman kita bergantung pada skema atau buku-buku yang tersedia dalam perpustakaan di benak kita.

Saat otak kita berusaha memahami objek-objek tak dikenal, otak harus bergantung pada skema untuk objek berbeda tapi mirip, karena skema yang tepat belum kita miliki. Jika objek dan skema yang dipilih cukup cocok, maka otak kita dengan mudah – tapi juga dengan tidak akurat – akan berasumsi bahwa kedua objek ini sama.

Seseorang yang belum pernah melihat kelelawar mungkin akan berasumsi bahwa kelelawar itu burung, karena karakteristik kelelawar dan skema yang orang itu miliki soal burung mirip: keduanya hewan kecil yang punya sayap dan bisa terbang. Otak kita akan menerima ketidakakuratan semacam ini.

Dalam contoh di adegan klasik di atas, dua orang yang mengira Superman sebagai burung atau pesawat karena belum pernah melihat Superman sebelumnya; mereka belum punya skema Superman. Otak mereka dengan cepat memilih skema burung dan skema pesawat karena skema-skema itu paling mirip dengan objek yang mereka sedang lihat di langit.

Otak mereka membuat asumsi cepat berdasarkan pengetahuan yang tidak sempurna. Otak “mengira” sedang melihat objek tertentu, tapi karena berpikir cepat dan efisien, otak membuat kesalahan.

Tidak ada yang salah dalam mengira bahwa Superman itu burung atau pesawat. Cukup sekali saja kita melihat Superman, maka kita akan menciptakan skema baru dan mengubah cara berpikir kita selamanya.

Write a comment

Your email address will not be published. All fields are required

Your email address will not be published.